Bangunan-bangunan Prasejarah Peninggalan Kebudayaan Megalithikum di Indonesia


Pada artikel saya sebelumnya telah dijelaskan periode zaman prasejarah di Indonesia yang terbagi menjadi dua, yakni zaman batu dan logam. Pada zaman batu inilah bangunan-bangunan prasejarah di Indonesia mulai ada. Peninggalan bangunan-bangunan yang terbuat dari batu ini disebut dengan kebudayaan batu besar (megalithikum). Kebudayaan megalithikum ini sendiri berawal di zaman batu muda (neolithikum) dan terus berlangsung hingga zaman logam.

Berkaitan dengan perkembangan kebudayaan megalithikum, seorang sarjana Jerman bernama Von Heine Geldern, membagi penyebaran kebudayaan megalithikum di Indonesia menjadi dua tahap, yakni zaman megalithikum tua dan megalithikum muda.

Zaman Megalithikum Tua


Zaman megalithikum tua menghasilkan bangunan-bangunan seperti menhir, punden berundak, dan arca-arca. Kebudayaan ini dibawa oleh orang-orang Proto Melayu yang merupakan pendukung kebudayaan kapak persegi. Zaman megalithikum tua berkembang pada zaman neolithikum sekitar tahun 2500-1500 SM (sebelum masehi).

Zaman Megalithikum Muda


Kebudayaan megalithikum muda menghasilkan bangunan-bangunan berupa kubur peti batu, dolmen, waruga, sarkofagus, serta arca-arca. Tradisi budaya megalithikum muda tersebar ke Indonesia dibawa oleh orang-orang Deutro Melayu yang merupakan pendukung kebudayaan Dongson. Kebudayaan megalithikum muda berkembang pada zaman perunggu pada sekitar tahun 1000-100 SM.

Kebudayaan megalithikum tersebar di banyak daerah di Indonesia dalam berbagai ragam dan bentuk. Akan tetapi, peninggalan prasejarah kebudayaan megalithikum banyak terdapat di Pulau Jawa dan Sumatera. Bangunan bersejarah kebudayaan megalithikum tersebut berupa menhir, punden berundak, dolmen, sarkofagus, dan kubur batu.

1. Menhir


Menhir adalah bangunan dari batu berbentuk tugu yang berfungsi sebagai perlambangan roh nenek moyang. Pada masa prasejarah, bangunan menhir dijadikan bangunan pemujaan. Menhir didirikan oleh seorang kepala suku dengan bantuan rakyatnya untuk mengenang jasa-jasanya. Setelah ia meninggal, maka menhir tersebut menjadi perlambangan kepala suku yang dipuja karena menjadi pelindung masyarakat. Dalam upacara tertentu, roh kepala suku dianggap turunke dalam menhir dan langsung berhubungan dengan para pemujanya.

bangunan-prasejarah-megalithikum-di-indonesia
Bangunan Prasejarah Menhir

Untuk melambangkan roh nenek moyang yang bersemayam di langit atau di atas gunung dan bukit, maka bangunan menhir didirikan di atas punden berundak. Bangunan punden berundak tersebut melambangkan tingkatan-tingkatan yang harus dilalui guna mencapai tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Contoh bangunan menhir ditemukan di dataran tinggi Pasemah di wilayah perbatasan antara Palembang dan Bengkulu.

2. Punden Berundak


Adakalanya fungsi menhir sebagai sarana pemujaan kepada roh nenek moyang sudah berkurang dan digantikan dengan pendirian bangunan punden berundak. Punden berundak adalah bangunan pemujaan yang tersusun secara bertingkat-tingkat menyerupai tangga. Bangunan punden berundak melambangkan tingkatan untuk menuju roh nenek moyang.

bangunan-prasejarah-megalithikum-di-indonesia
Bangunan Prasejarah Punden Berundak

Contoh bangunan punden berundak dapat ditemukan di Pulau Sumatera maupun Jawa. Misalnya, bangunan berundak (aerosali) dengan menhir (behu) di Pulau Nias; Punden berundak suku Badui di gunung Padang; Arca Domas, Lemah Duhur, dan Kosala di Jawa Barat; Punden berundak Gunung Welirang dan Gunung Argapura di Jawa Timur; Punden berundak Panebel, Tenganan, Selulung, Kintamani, Sembiran, dan Besakih di Bali.

3. Dolmen


Dolmen adalah bangunan berbentuk meja yang terbuat dari batu yang memiliki kaki meja berupa empat menhir. Fungsi dolmen adalah segagai tempat sesaji pada upacara pemujaan terhadap roh nenek moyang. Selain itu, terdapat bangunan dolmen yang berfungsi sebagai kuburan batu yang disebut pandusha. Misalnya, dolmen yang ditemukan di daerah Besuki, Jawa Timur.

bangunan-prasejarah-megalithikum-di-indonesia
Bangunan Prasejarah Dolmen

Berdasarkan penelitian kepurbakalaan, dolmen banyak ditemukan di Pulau Sumatera, seperti di daerah Dataran Tinggi Pasemah, Sumatera Selatan.

4. Sarkofagus


Sarkofagus adalah bangunan dari batu yang berbentuk seperti lesung yang berfungsi sebagai keranda jenazah. Sarkofagus berukuran besar berhasil ditemukan di daerah Keliki dan Tegalalang, Bali. Bentuk Sarkofagus dari Bali hampir mirip peti-peti batu dari Besuki. Sarkofagus tersebut berisi tulang-belulang, pemukul kulit kayu dari batu, dan pecahan barang-barang dari perunggu dan besi, serta manik-manik.

bangunan-prasejarah-megalithikum-di-indonesia
Bangunan Prasejarah Sarkofagus

5. Kubur Batu


Kubur batu merupakan bangunan yang bentuknya hampir sama dengan peti mayat dari batu. Dinding, alas, dan penutup kubur batu dibuat dari papan-papan batu. Kubur batu agak berbeda dengan keranda. Keranda terbuat dari satu buah batu besar yang dicekungkan bagian atasnya seperti lesung dan diberi penutup, sedangkan kubur batu merupakan peti yang dinding-dindingnya terlepas satu sama lain.

bangunan-prasejarah-megalithikum-di-indonesia
Bangunan Prasejarah Kubur Batu

Contoh kubur batu pernah ditemukan di daerah-daerah seperti Wonosari, Cepu, Cirebon, serta Pasemah. Kubur-kubur batu tersebut antara lain berisi tulang-belulang, alat-alat dari perunggu dan besi, serta manik-manik.

Jangan Lupa Follow KuyBelajar untuk Mendapatkan Informasi Terbaru!

0 Response to "Bangunan-bangunan Prasejarah Peninggalan Kebudayaan Megalithikum di Indonesia"

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar jika ada yang perlu didiskusikan. Jangan pernah gunakan ujaran kebencian, bullying, dan kalimat-kalimat yang mengandung unsur SARA!